Weekly Market Update BNI-AM - Ulasan Pasar Saham, Obligasi dan Pasar Uang

Senin, 4 Desember 2017 | 12:00


Ulasan Pasar Saham

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang minggu lalu ditutup pada level 5,952 atau turun -1.83% (WoW) dan Indeks LQ45 tercatat turun sebesar -2.34% (WoW) ke level 992. Sementara itu, investor asing mencatatkan total jual bersih sebesar Rp 8.9 triliun pada perdagangan minggu lalu dimana secara YTD total jual bersih investor asing tercatat sebesar Rp 35.6 triliun. Penurunan IHSG didorong oleh aksi jual dari rebalancing indeks MSCI di akhir minggu yang mendorong penurunan saham-saham berkapitalisasi besar. Bursa global pada perdagangan minggu lalu juga mengalami penurunan seperti indeks FTSE 100 (Inggris) yang terkoreksi 1.22%, Hang Seng (Hong Kong) turun 1.79%, dan KOSPI (Korsel) turun 2.40%. Namun, indeks Dow Jones kembali melanjutkan penguatannya minggu lalu yang naik 3.17% seiring optimisme diloloskannya program pemotongan pajak di AS.
Pada perdagangan minggu lalu, sektor pertambangan (+0.59% WoW) menjadi sektor yang mengalami penguatan terbesar didorong oleh sentimen harga batubara yang mengalami rebound pada perdagangan minggu lalu (+0.73% WoW) disusul sektor perdagangan (+0.60% WoW). Sementara itu, sektor aneka industri (-5.44% WoW) menjadi sektor yang mengalami pelemahan terbesar minggu lalu dipicu oleh penurunan saham ASII yang turun 6.73% (WoW) seiring dengan rebalancing indeks MSCI. Kami melihat ekspektasi aksi window dressing pada akhir tahun diharapakan akan menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG di bulan Desember dan dapat menahan sentimen negatif dari potensi kenaikan suku bunga AS di bulan Desember.


Ulasan Pasar Obligasi dan Pasar Uang

Pasar obligasi sepanjang minggu lalu mencatatkan penguatan yang tercermin pada Indonesia Composite Bond Index (ICBI) yang naik 0.45 WoW dari 238.66 ke 239.46. Tren ini didasari oleh index obligasi pemerintah (IndobexG) yang ditutup naik 0.44% WoW ke level 236.62 dari 235.84 sedangkan indeks obligasi korporasi (IndobexC) juga mengalami kenaikan sebesar 0.49% WoW ke level 250.11 dari 249.13. Dari global, terjaganya spekulasi risiko di pasar, tercermin dari CDS Indonesia tenor 5-tahun yang turun sebesar –1,02bps turut mempengaruhi maraknya aksi beli obligasi. Dari domestic, ekspektasi terjaganya level inflasi November yang diproyeksi berada di level 3,37%yoy menjadi salah satu faktor penopang kinerja positif pasar. Investor asing juga kembali melakukan aksi beli SBN yang tercermin dalam net buy sebesar Rp4,5tn sejak akhir pekan lalu. Rupiah tercatat melemah terhadap USD ke level Rp13.530/US$. Yield SUN 10 tahun yang tercatat turun dari level 6.53% ke level 6.49%, sedangkan kepemilikan asing di SUN tercatat naik 0.54% WoW dari Rp 825.76 T menjadi Rp 830.26 T.
Kami melihat adanya potensi kenaikan terbatas yield dalam jangka pendek, pasca penurunan yield dalam dua minggu terakhir. Kemungkinan naiknya fed rate di bulan desember dan naiknya tensi politik di AS seiring adanya kemungkinan campur tangan Rusia dalam pilpres tahun lalu menjadi setimen negative dari global. Walaupun begitu, cenderung kondusifnya keadaan domestic terus mendorong minat investor asing terhadap Indonesia, Special rate bulanan deposito di akhir oktober dan November cenderung flat setelah dari awal tahun mencatatkan tren menurun yang disebabkan oleh turunnya 7 days reverse repo rate. Special rate bulanan deposito di awal tahun untuk bank BUKU II dan BUKU III di periode bulan November 2017 rentang special rate untuk kategori yang sama berada antara 6.25%-7.00%. Data industri perbankan menunjukkan pertumbuhan time deposit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan loan, sehingga hal tersebut memicu kelebihan likuiditas pada bank yang menyebabkan cenderung turunnya rate deposito.



* Return produk termasuk dividen


Sebelum melakukan investasi di Reksa Dana, Investor harus membaca dan memahami prospektus dana, khususnya di bagian Manajer Investasi. Investasi Reksa Dana mengandung risiko. Kinerja masa lalu tidak menunjukkan kinerja masa depan.

GRUP BNI