Weekly Market Update BNI-AM - Ulasan Pasar Saham, Obligasi dan Pasar Uang

Jumat, 17 November 2017 | 12:00


Ulasan Pasar Saham

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang minggu lalu ditutup pada level 6,052 atau naik +0.50% (WoW) dan Indeks LQ45 tercatat naik sebesar +0.98% (WoW) ke level 1,011. Sementara itu, investor asing mencatatkan total jual bersih sebesar Rp 1.04 triliun pada perdagangan minggu lalu dimana secara YTD total jual bersih investor asing tercatat sebesar Rp 29 triliun. Penguatan IHSG didorong oleh rilis data neraca perdagangan dimana ekspor tercatat tumbuh 18.4% (YoY) atau diatas ekspektasi yang memperkirakan tumbuh sebesar 15% (YoY).
Dari global. pergerakan bursa mayoritas bergerak melemah dimana indeks Dow Jones (AS) turun -0.27%, indeks FTSE 100 (inggris) turun -0.70%, dan indeks Nikkei (Jepang) turun -1.25%. pelemahan bursa AS antara lain dipicu oleh meningkatnya pesimisme pasar terkait reformasi pajak dapat direalisasikan di akhir tahun ini .
Sektor pertambangan (+1.46%), Barang konsumsi (+1.22%) menjadi sektor yang mengalami penguatan terbesar sementara sektor pertambangan (-1.61) dan aneka industri (-1.71%) menjadi sektor yang mengalami pelemahan terbesar minggu lalu. Kami melihat IHSG berpotensi mengalami tekanan dalam jangka pendek investor minimnya katalis positif pada beberapa minggu kedepan serta adanya potensi proft taking yang dilakukan oleh investor mengungat IHSG sudah berada di area level tertingginya pasca kenaikan minggu lalu.


Ulasan Pasar Obligasi dan Pasar Uang

Pasar obligasi sepanjang minggu lalu mencatatkan penguatan yang tercermin pada Indonesia Composite Bond Index (ICBI) yang naik 0.19% WoW dari 237.06 ke 237.52. Tren ini didasari oleh index obligasi pemerintah (IndobexG) yang ditutup naik 0.19% WoW ke level 234.70 dari 234.26 sedangkan indeks obligasi korporasi (IndobexC) juga mengalami kenaikan sebesar 0.24% WoW ke level 248.06 dari 247.47. faktor global yang turut mendorong bertahannya penguatan pasar SBN yakni tren penurunan yield US Treasuries paska stagnannya inflasi AS. Dari domestic, Sentimen domestik seperti rilis neraca perdagangan dan penguatan Rupiah terhadap USD ke level Rp13.535/US$ diperkirakan menjadi trigger penguatan pasar SBN. Yield SUN 10 tahun yang tercatat turun tipis dari level 6.63% ke level 6.60%, sedangkan kepemilikan asing di SUN tercatat naik 0.50% WoW dari Rp 811.97 T menjadi Rp 816.02 T.
Kami melihat adanya kemungkinan peningkatan yield dalam jangka pendek, dikarenakan factor eksternal seperti ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate di bulan Desember 2017 dan meningkatnya spread antara SUN dan US Treasury 10 tahun. Namun, potensi kenaikan yield diperkirakan dapat dibatasi oleh masih tingginya minat investor asing terhadap pasar domestik juga tercermin dari aliran dana asing ke pasar SBN dimana dalam 12 hari perdagangan pertama di bulan November, investor asing telah mencatatkan net buy senilai IDR19,9 triliun, hampir mendekati jumlah net sell yang dilakukan sepanjang bulan Oktober sebesar IDR23,2 triliun..
Special rate bulanan deposito di akhir oktober dan November cenderung flat setelah dari awal tahun mencatatkan tren menurun yang disebabkan oleh turunnya 7 days reverse repo rate. Special rate bulanan deposito di awal tahun untuk bank BUKU II dan BUKU III di periode bulan Oktober 2017 rentang special rate untuk kategori yang sama berada antara 6.25%-7.50%. Data industri perbankan menunjukkan pertumbuhan time deposit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan loan, sehingga hal tersebut memicu kelebihan likuiditas pada bank yang menyebabkan cenderung turunnya rate deposito.

* Return produk termasuk dividen


Sebelum melakukan investasi di Reksadana, Investor harus membaca dan memahami prospektus dana, khususnya di bagian Manajer Investasi. Investasi reksadana mengandung risiko. Kinerja masa lalu tidak menunjukkan kinerja masa depan.

GRUP BNI