Weekly Market Update BNI-AM - Ulasan Pasar Saham, Obligasi dan Pasar Uang

Senin, 18 Desember 2017 | 09:00



Ulasan Pasar Saham

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan minggu lalu ditutup pada level 6,119 atau naik 1.47% (WoW) dan Indeks LQ45 tercatat naik sebesar 1.21% (WoW) ke level 1,030. Sementara itu, investor asing mencatatkan total jual bersih sebesar Rp 2.4 triliun pada perdagangan minggu lalu dimana secara YTD total jual bersih investor asing tercatat sebesar Rp 40.4 triliun. Bursa global pada perdagangan minggu lalu juga mayoritas mengalami penguatan seperti indeks FTSE 100 (Inggris) menguat 1.31%, Hang Seng (Hong Kong) naik 0.73%, dan Kospi (Korsel) naik 0.73%. Indeks Dow Jones juga kembali melanjutkan penguatannya minggu lalu yang naik 1.33% seiring meningkatnya spekulasi penurunan pajak korporasi AS dari 35% menjadi 21% akan diloloskan oleh Senat AS minggu ini.
Pada perdagangan minggu lalu, selutruh sektor tercatat mengalami penguatan dimana sektor industri dasar (+5.73%) menjadi sektor yang mengalami penguatan terbesar didorong oleh penguatan saham emiten semen pasca rilis data penjualan semen bulan November yang tercatat naik 11.4% (YoY). Sementara itu, sektor perbankan (+0.21%) dan agrikultur (+0.33%) menjadi sektor yang mengalami penguatan terkecil minggu lalu. Kami melihat ekspektasi aksi window dressing masih akan menjadi katalis bagi pergerakan IHSG di bulan Desember seiring minimnya katalis hingga akhir bulan pasca pengumuman kenaikan suku bunga Fed Rate dan ditahannya suku bunga acuan BI yang sudah diantisipasi oleh pelaku pasar.


Ulasan Pasar Obligasi dan Pasar Uang

Pasar obligasi sepanjang minggu lalu mencatatkan penguatan yang tercermin pada Indonesia Composite Bond Index (ICBI) yang naik 0.26% WoW dari 240.03 ke 240.66. Tren ini didasari oleh index obligasi pemerintah (IndobexG) yang ditutup naik 0.26% WoW ke level 237.78 dari 237.15 sedangkan indeks obligasi korporasi (IndobexC) juga mengalami kenaikan sebesar 0.27% WoW ke level 251.54 dari 250.87. Meredanya ketidakpastian paska dinaikkannya FFR yang sesuai perkiraan dan sikap antisipatif The Fed dalam kebijakan moneternya di tahun 2018 mendorong pasar obligasi domestik berlanjut positif. Pergerakan positif pasar juga diperkirakan karena meningkatnya demand dari investor terutama institusi non-bank seiring dengan batas waktu pemenuhan aturan investasi OJK. Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp1,03tn sejak akhir pekan lalu. Sementara itu, rupiah tercatat melemah terhadap USD ke level Rp13.570/US$. Yield SUN 10 tahun yang tercatat turu dari level 6.53% ke level 6.47%, sedangkan kepemilikan asing di SUN tercatat naik 0.12% WoW dari Rp 832.12 T menjadi Rp 833.15 T.
Kami melihat adanya potensi penurunan tebatas yield dalam jangka pendek. Optimisme investor global meningkat seiring adanya keyakinan bahwa kongres AS akan mencapai kesepakatan mengenai rencana pemangkasan pajak korporasi diperkirakan dapat memicu masuknya investor ke aset-aset yang lebih beresiko. Minat investor asing terhadap Indonesia masih tinggi, seiring dengan terus masuknya aliran dana investor asing ke Indonesia Namun potensi penurunan yield ini dapat dibatasi oleh cenderung tidak agresifnya investor menjelang akhir tahun
Special rate bulanan deposito di akhir oktober dan November cenderung flat setelah dari awal tahun mencatatkan tren menurun yang disebabkan oleh turunnya 7 days reverse repo rate. Special rate bulanan deposito di awal tahun untuk bank BUKU II dan BUKU III di periode bulan November 2017 rentang special rate untuk kategori yang sama berada antara 6.25%-7.00%. Kelebihan likuiditas pada bank yang disebabkan oleh lebih kencangnya pertumbuhan deposito daripada kredit menyebabkan cenderung turunnya rate deposito.